Tiga Cara Cerdas Menyikapi Harta Dunia

Sejatinya dunia hanyalah sementara. Anak, rumah, mobil mewah dan kekayaan berlimpah lainnya merupakan ujian terhadap keimanan manusia. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kekayaan kini membutakan.

Manusia berlomba-lomba mengumpulkan harta dengan beragam cara. Bahkan beberapa diantaranya tidak mempedulikan perkara halal dan haram dalam mendapatkannya. Jika sudah berkelimpahan, mereka lupa bahwa semua kekayaan itu tidak dibawa ke liang lahat.

Sehingga dalam penggunaannya, sering kali seseorang melupakan syariat.  Harta di dunia  tentu bisa menjadi bumerang jika tidak mampu menyikapinya dengan baik. Lantas bagaimana seharusnya manusia meyikapi perkara harta ini? Berikut informasi selengkapnya.

1. Tidak Berlebih-lebihan dan Tidak Mengambil Selain Haknya

Cara pertama yang bisa dilakukan dalam menyikapi harta dunia adalah dengan tidak berlebih-lebihan serta tidak mengambil selain haknya. Orang yang suka berlebihan terhadap harta akan mudah digoda oleh iblis dan pasukkannya untuk dijerumuskan ke dalam perbuatan dosa. Terlebih lagi apabila mereka mendapatkan harta tersebut dari merampas atau mengambil hak orang lain. Rasulullah SAW bersabda:

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam bersabda, “Demi Allah! Sungguh aku tidak khawatir terhadap kalian kecuali mengenai perhiasan dunia (harta) yang diberikan oleh Allah kepada kalian. Seorang lelaki pun bertanya, “Ya Rasulullah! Apakah kebaikan (harta) itu mendatangkan kejelekan?” Rasulullah bersabda

“Kebaikan itu tidaklah membuahkan/mendatangkan kecuali kebaikan. Sesungguhnya harta benda ini nampak hijau (indah) nan manis (menggiurkan). Sungguh perumpamaannya bagaikan rerumputan yang tumbuh di musim semi. Betapa banyak rerumputan yang tumbuh di musin semi menyebabkan binatang ternak mati kekenyangan hingga perutnya bengkak dan akhirnya mati atau hampir mati. Kecuali binatang yang memakan rumput hijau, ia makan hingga ketika perutnya telah penuh, ia segera menghadap ke arah matahari, lalu memamahnya kembali, kemudian ia berhasil membuang kotorannya dengan mudah dan juga kencing. Untuk selanjutnya kembali makan, demikianlah seterusnya. Dan sesungguhnya harta benda ini terasa manis. Barang siapa yang mengambilnya dengan cara yang benar dan membelanjakannya dengan benar pula, maka ia adalah sebaik-baik bekal. Sedangkan barang siapa yang mengumpulkannya dengan cara yang tidak benar, maka ia bagaikan binatang yang makan rerumputan akan tetapi ia tidak pernah merasa kenyang, (hingga akhirnya ia pun celaka karenanya).” (HR. Bukhari no. 6427 dan Muslim no. 1052).

2. Menyedekahkannya Sebagian
Selain tidak berlebihan dalam menggunakan atau menyikapi harta, kita juga dianjurkan untuk menyedekahkannya sebagain kepada orang yang membutuhkan. Dalam artian, kita harus saling tolong menolong dan membantu sama lain dengan memberikan sebagian harta yang kita punya.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam pernah bersabda ketika beliau di atas mimbar sedang menuturkan masalah sedekah dan menghindari perbuatan meminta-minta.

“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan yang di atas adalah pemberi dan tangan yang di bawah adalah peminta-minta.” (HR. Bukhari).

3. Menjauhi Sifat Rakus
Cara terakhir dalam menyikapi harta adalah dengan menjauhi sifat rakus. Tidak sedikit kita temukan orang yang berubah menjadi beringas dan tamak ketika mereka mendapatkan kedudukan dan kekayaan. Perilaku mereka akan seketika berubah dan gila akan harta, oleh karenanya mereka tidak lagi memikirkan dari manakah uang tersebut diperoleh.

Rasulullah bersabda, “Manusia cepat menua dan beruban karena dua hal, rakus terhadap harta dan rakus terhadap umur alias takut mati.” (HR. Bukhari).

Akan tetapi, jangan karena hal demikian membuat kita berpikir bahwa Islam adalah agama yang anti terhadap harta. Justru Islam menganjurkan manusia untuk rajin bekerja dan jangan sampai meminta-minta kepada sesama. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah sikap meminta-minta terdapat pada diri seseorang di antara kalian, kecuali dia bertemu dengan Allah, sementara di wajahnya tidak ada secuil daging pun.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, bekerjalah dengan kesungguhan dan karena Allah Ta’ala. Selanjutnya berhematlah dan berbagilah dengan sesama makhluk Allah. Dengan demikian, maka Allah SWT akan menjaga kita dari keserakahan terhadap harta.

Demikianlah informasi terkait tiga cara cerdas menyikapi harta dunia. Ada baiknya, apabila kita mempunyai kelebihan harta gunakanlah untuk kebaikan di jalan Allah SWT. Jangan sampai harta tersebut mengubah keimanan kita kepada Allah SWT.

Ini Rahasia Agar Anak Menjadi Cerdas

Dikarunia anak dengan kemampuan intelektual yang brilian tentu menjadi dambaan oleh setiap orang tua. Memang, tanggung jawab orang tua memang tidak hanya membesarkan saja. Membuat buah hati tumbuh dengan cerdas juga menjadi salah satu kewajiban.
 
Berbagai hal dilakukan untuk mewujudkan harapan tersebut. Misalnya, memberikan asupan vitamin, memasukkan anaknya pada kegiatan les tambahan atau mendatangkan guru privat. Tentu, bukan harga yang murah jika orang tua ingin anaknya cerdas dengan cara ini.

Ternyata agama islam telah memberikan solusi bagi para orang tua yang ingin memiliki anak yang cerdas dan pintar. Solusi ini sangat mudah dilakukan, asalkan para orang tua memiliki niat yang tulus dan selalu berserah diri kepada Allah. Apa solusinya? Simak ulasan berikut.

Agar anak menjadi cerdas dan pintar, orang tua dapat membaca doa berikut ini. Alloohummam-la’ quluuba aulaadinaa nuuron wa hik-matan wa ahlihim liqobuuli ni’matin wa ashlih-hum wa ashlih bihimul ummah.

Artinya adalah “Ya Allah, penuhilah hati anak-anak kami dengan cahaya dan hikmah, dan jadikan mereka hamba-hamba-Mu yang pantas menerima nikmat, dan perbaikilah diri mereka dan perbaiki pula umat ini melalui mereka.”

Memang mewujudkan anak berprestasi menjadi kebutuhan setiap bangsa di masa depan. Anak berprestasi bisa dicapai tidak hanya karena cerdas pikirannya (IQ), namun juga cerdas mengelola emosi (EQ) dan cerdas spiritualnya (SQ).

Orang tua pun hendaknya tidak hanya puas dengan kecerdasan pikiran (IQ) sang anak. Jauh sebelumnya, Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alayhi Wa Salam pernah bersabda, “Didiklah anak-anakmu pada tiga perkara, yakni mencintai Nabimu, mencintai ahli baitnya, dan membaca al-Qur’an” (HR. ath-Thabrani).

Tiga hal yang diperintahkan Nabi untuk diajarkan kepada orang tua kepada anak-anaknya terkait dengan puncak dan asas berbagai kecerdasan pada anak. Kecerdasan inilah yang sering disebut dengan kecerdasan spiritual atau kecerdasan relijius.

Kebiasaan Abu Bakar dan Umar Ini Diabaikan Kaum Muslim Akhir Zaman

Sebagian dari kita mungkin pernah mencoba memulai kebiasaan baik. Tentu saja sebuah hal baru yang baik tidak muncul begitu saja, melainkan harus melalui proses yang panjang agar menjadi sebuah kebiasaan.

Di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, para sahabat merupakan suri tauladan yang baik. Mereka senantiasa mengerjakan amalan sebagaimana yang dikerjakan Rasulullah. Mereka juga tidak membiarkan kadar amalnya menurun dari hari ke hari.

Sebagaimana yang diketahui bahwa iman di dalam hati dapat mengalami fluktuasi. Hal inilah yang dialami kaum muslimin saat ini. Padahal di zaman Nabi, sahabat Rasulullah Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khottab selalu menjaga alaman mereka sebagai bukti keimanan yang kuat.

Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu, Imam Abu Dawud, dan Imam Malik bin Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bertanya kepada sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu, “Kapan engkau mendirikan shalat witir?”

Sahabat sekaligus mertua Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam ini menjawab, “Di awal malam.” Laki-laki yang langsung percaya dengan ajaran Nabi nan mulia ini senantiasa mendirikan shalat witir sebelum tidur.

Tidak jauh dari lokasi sahabat mulia Abu Bakar ash-Shiddiq berdirilah sosok gagah nan tegap dan pemberani, Umar bin Khaththab. Kepada laki-laki yang kelak menjadi Khalifah kedua kaum Muslimin ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam menyampaikan pertanyaan serupa, “Kapan engkau mendirikan shalat witir?”

Dengan tegas bertabur keyakinan penuh di hati, Umar yang bergelar al-Faruq (pembeda antara kebenaran dan kebatilan) ini berkata, “Di akhir malam.” Ia memilih tidur di awal malam agar dapat bangun dan melakukan munjat kepada Allah Ta’ala dalam tahajjud dan witir di penghujung malam yang terakhir.

Apa yang dikerjakan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu ini merupakan cerminan sifat hazm, yakni keseriusan terhadap sesuatu dan waspada agar sesuatu itu tidak terlepas dari genggamannya.

Abu Bakar memilih mendirikan witir di awal malam sebab dia tidak bisa memastikan akan bangun atau tidak di sepertiga malam yang terakhir. Padahal, beliau merupakan sahabat yang kualitas ibadahnya amat mengesankan, senantiasa bangun di akhir malam untuk bermunajat kepada Allah Ta’ala.

Sedangkan Umar bin Khaththab memilih mengakhirkan witir di ujung malam, di sepertiga yang terakhir sebagai salah satu bentuk ‘azm. Yakni kesungguhan, kesabaran, dan kemampuan. Umar dengan sifat kesatria dan keberaniannya benar-benar berupaya hingga terbangun di akhir malam melakukan tahajjud yang diakhiri dengan rakaat witir.

Masing-masing dari dua cara beribadah ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam mengapresiasinya. Tidak ada yang salah, bahkan keduanya sama mulianya. Abu Bakar dengan kehati-hatiannya dan Umar dengan kesungguhan dan keberaniannya.

Berdasarkan hal ini saja, kita dapat mengetahui bagaimana kualitas kita. Jika ada yang bertanya ‘mengapa kita jauh tertinggal dari kalangan sahabat selayak Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khaththab?, tentu jawabannya harus digali dari hati yang paling dalam.

Bahkan, jika dikaitkan dengan satu amalan tahajjud dan witir ini, kita benar-benar tidak serius untuk menjadi sepemberani Umar atau sehati-hati Abu Bakar. Kaum muslimin saat ini sangat mudah terpengaruh dengan urusan duniawi dan sulit menjaga urusan ibadanya kepada Allah. Wallahu’alam.

Stop Marahi Anak Di Masjid, Ini Bahayanya

Anak-anak ibarat benih yang dapat tumbuh dengan baik apabila dididik dengan baik. Salah satunya adalah dengan membiasakan mereka datang ke masjid untuk belajar shalat dan belajar membaca Al-Quran.

Namun, banyak diantara jamaah atau pengurus masjid tidak sabar menghadapi anak-anak. Mereka takut kebiasaan ribut anak-anak mengganggu kekhusukkan orang yang sedang beribadah. Sehingga tidak jarang generasi penerus ini dimarahi atau diusir untuk keluar. 

Padahal, Islam melarang memarahi anak-anak di masjid. Ada banyak dampak buruk yang akan dialami anak ketika orang tua melakukan ini. Tidak hanya saat masih kecil saja, efeknya akan mereka rasakan hingga dewasa.
Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam justru berinteraksi dengan anak-anak di masjid saat shalat. Perlakuan Rasulullah ini  sangat berbeda jauh dengan kenyataan yang dilakukan oleh sebagian muslim terhadap anak-anak yang suka bermain di masjid.

Umar Abdul Kafi pernah bertemu dengan seorang laki-laki berusia senja. Usianya sekitar enam puluh tahun. Sosok penulis buku al-Wa’dul Haq ini tidak menemukan tanda-tanda sujud di dalam diri laki-laki yang ditemuinya tersebut.

Umar memberanikan diri untuk mengajukan sebuah pertanyaan dengan sangat hati-hati, “Kapan terakhir kali Anda menghadapkan diri kepada Allah Ta’ala?” Seraya menundukkan pandangannya, laki-laki ini berujar, “Sekitar lima puluh lima tahun silam. Saat usiaku lima tahun.”

Lelaki tersebut pun menceritakan, “Aku bergegas melakukan shalat bersama sahabat-sahabatku. Namun, ada seorang laki-laki dewasa yang mendatangiku sembari berkata ketus, ‘Enyahlah kalian! Berdirilah di sana (menunjuk arah luar masjid). Shalatlah di sana!.’”

Seketika itu juga, laki-laki itu keluar dari masjid dan tidak pernah lagi menuju masjid untuk beribadah. Selamanya. Bekas sakitnya masih tertancap kuat di dalam benak dan nuraninya karena diusir dari rumah Allah tempat ia dan teman-temannya melaksanakan sholat.

Sebagai jamaah tetap di sebuah masjid, kadang kita tidak mampu untuk bersikap bijaksana. Padahal, sikap bijaksana merupakan lambang kematangan sekaligus teladan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.

Kita yang sering memarahi anak-anak di masjid ketika mereka ramai, mungkin lupa dengan apa yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Beliau pernah turun dari mimbar untuk mendekati cucunya yang tengah berlari, lantas menggendongnya dan kembali melanjutkan khutbah.

Dalam hadist lain diceritakan bahwa saat Rasulullah sujud dalam sholat, Hasan dan Husein bermain menaiki punggung Rasulullah. Jika ada sahabat yang ingin melarang Hasan-Husein, maka Rasulullah memberi isyarat untuk membiarkannya. Apabila shalat telah selesai, Rasulullah memangku kedua cucunya itu (HR: Ibnu Khuzaimah).

Kemarahan kita bahkan semakin memuncak saat merasa paling khusyuk. Kita mengira bahwa celoteh anak-anak dan tawa kecil mereka merupakan satu-satunya sebab tercerabutnya khusysuk yang kita upayakan dengan susah payah.

Alhasil, kita dengan gegas menyalahkan sebab dan berusaha untuk segera mengenyahkannya dengan segenap kemampuan yang kita miliki sebagai orang tua. Mungkin, kita lupa. Bahwa kemarahan yang kita muntahkan amat besar peluangnya untuk menyingkirkan anak-anak dari masjid-masjid.

Padahal ketika kita benar-benar meninggal dunia, di masjid tak ada lagi yang meneruskan kebiasaan baik kita. Sebab anak-anak yang telah tumbuh dewasa itu enggan menuju masjid. Trauma lantaran kemarahan yang dahulu pernah kita lontarkan tanpa sedikit pun niat untuk menyampaikan nasihat.

Kepada Anda yang kerap melontarkan kemarahan kepada anak-anak di masjid atas nama kekhusyukan dan merasa paling layak memarahi, camkan kisah ini baik-baik. Sebab kisah ini amat nyata dan amat bisa menimpa Anda sekalian.

Jika Anda pernah melakukannya, bergegaslah untuk meminta ampun kepada Allah Ta’ala lantaran Anda telah menghalangi seorang hamba dari mendekat dan beribadah kepada-Nya. Dan yang perlu diingat, dicatat, dan diamalkan adalah sikap lemah lembut dalam menyelesaikan masalah anak-anak di masjid.

Hikmah Luar Biasa Dibalik Saling Memaafkan

Setiap manusia di muka bumi ini tidak ada yang sempurna. Mereka pasti memiliki kesalahan yang disengaja maupun tidak. Ketidakcocokan yang terjadi akan membuat makhluk sosial ini menjadi tidak nyaman, mempunyai dendam, bahkan mengganggu pikiran dan hati.

Salah satu hal yang dapat dilakukan manusia adalah dengan memaafkan. Tindakan ini adalah perbuatan kecil, sulit dilakukan, namun bermanfaat sangat besar. Agama Islam mengajarkan kepada umat  untuk menjadi orang yang pemaaf.

Sikap tersebut mencerminkan keluhuran budi dan akhlak yang harus dijunjung tinggi. Banyak sekali hikmah di balik sikap saling memaafkan ini. Perintah agama agar berakhlak pemaaf layaknya Rasulullah ini juga terbukti baik secara medis. Apa saja hikmah lainnya?Berikut ulasannya.

Menurut pakar, dengan memaafkan, manusia akan terbebas dari beban-beban psikologis yang dapat membuat stress, memendam kebencian, hasrat untuk membalas dendam, marah, depresi, dan cemas. Manfaat besar lainnya dari memaafkan salah satunya adalah memperoleh kebahagiaan. Dengan memaafkan, hati dan jiwa menjadi tenang.

Hal-hal negatif yang dahulu menggangu pikiran akan hilang seiring dengan kita melupakan orang atau kejadian tersebut. Kita akan memandang segalanya dari sisi positif dan memikirkan hal-hal yang lebih penting dari daripada itu. Dengan demikian, seseorang akan lebih menikmati hidup.

Harun Yahya dalam artikelnya yang berjudul “Sikap Memaafkan dan Manfaatnya bagi Kesehatan”, di dalam jurnal ilmiah Explore menyatakan, “Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa orang-orang yang mampu memaafkan itu lebih sehat, serta baik jiwa maupun raga”.

Selain itu, Dr. Frederic Luskin dalam bukunya Forgive for Good, menjelaskan bahwa sifat pemaaf merupakan resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Sifat pemaaf dapat memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan (cita-cita), kesabaran, serta percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stress.

Jauh sebelum itu, Allah telah berfirman di dalam Al-Qur’an bahwa, “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf : 199). Begitu pula dalam surat Al-Baqarah ayat 263 berbunyi, “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan umatnya untuk menjadi orang yang pemaaf. Sebagai Sang pencipta, Allah memiliki sifat al-‘Afuww yaitu Maha Pemaaf, Ia akan memaafkan dosa-dosa kita yang tak terhingga jumlahnya. Maka sebaiknya, kita sebagai manusia untuk mencontoh sifat-sifat Allah.

Agar dapat mudah memaafkan, maka serahkanlah semuanya pada Allah, lupakan kesalahan yang diperbuat orang lain kepada kita dan mengalihkannya kepada pikian-pikran yang positif agar jiwa dan raga menjadi sehat dan tenang. Ubah mindset kita bahwa manusia pasti dapat melakukan kesalahan dalam kehidupannya dan kesalahan adalah bagian dari pembelajaran.

Saat Meninggal, Jenazah Manusia Ini Diangkat Allah Ke Langit

Kekuasaan Allah SWT sungguh tidak terbatas. Pada hari kiamat nanti, Allah dengan mudah menghidupkan kembali orang yang sudah mati, mengembalikan jasad yang telah hancur lebur dan  membangkitkan semua manusia untuk diadili.

Tidak ada yang mustahil di dunia ini di tangan Sang Pencipta. Bahkan, melalui kekuasaan-Nya pula, Allah pernah mengangkat jasat seorang hamba yang telah meninggal ke atas langit. Manusia ini menjadi salah satu hamba pilihan-Nya.

Ia sama sekali tidak terkenal saat menjalani kehidupan di dunia. Bahkan, manusia ini hanyalah seorang hamba sahaya yang memiliki tuan. Namun karena keimanan dan ketaqwaanya kepada Allah, Ia menjadi perbincangan penduduk langit.  Siapa dia? Berikut ulasannya. 

Dia adalah Amir bin Fuhairah, seorang hamba sahaya milik Abu Bakar yang telah dibebaskan dan termasuk pada orang yang mula-mula masuk Islam. Bahkan, sebelum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berdakwah di Darul Arqom, Amir pun turut hijrah ke Madinah dan ikut dalam Perang Badar Kubra serta Uhud. 

Amir bin Fuhairah senantiasa hormat kepada Abu Bakar dan Rasulullah, ketika Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu dan Rasulullah hijrah ke madinah dan berteduh selama tiga hari di gua Tsur untuk menghindari kejaran kaum kafir Quraisy. Amir lah yang selalu memberikan minum susu kambing kepada mereka berdua. Ia sengaja memperlambat pulangnya hingga malam, dan membawa kambing kembalaannya menuju gua tersebut. Tanpa membuat para kaum Qurais curiga.

Sungguh Islam telah mengangkat derajat seseorang, dari seorang budak, Amir bin Fuhairah dimuliakan tiada tara karena akhirnya ia menjadi seorang hafidz (seseorang yang Hafal) Al Qur'an. Rasulullah pun memilihnya sebagai bagian dari 70 orang sahabat yang juga hafidz sebagai utusan untuk berdakwah kepada Bani Amir di Najd pada tahun 4 H.

Dalam perjalanan, para Huffadz mendapatkan serangan dari kawanan orang kafir, tepatnya di Bi’r Ma’unah. Mundzir bin Amr menceritakan tentang kisah orang-orang utusan Nabi yang biasa mengajarkan Al-Qur'an dan Sunnah kepada kaumnya. Dalam kisah itu, ia menyebutkan bahwa Amir bin Thufail bertanya kepada Amr bin Umayyah, "Apakah engkau kenal rekan-rekanmu?"'Amr bin Umayyah menjawab, "Ya."

Lalu Amir bin Thufail mengelilingi jenazah para syahid yang gugur dan menanyakan nasab mereka kepada Amr bin Umayyah, lalu bertanya, "Apakah kamu kehilangan salah seorang dari mereka?" Amr bin Umayyah menjawab, Aku mencari budak Abu Bakar yang bernama Amir bin Fuhairah." Amir bin Thufail bertanya lagi, "Bagaimana perilakunya?" Amr bin Umayyah menjawab, "Ia orang yang paling baik di antara kami."

Amir bin Thufail berkata, "Aku akan memberitahukan keadaan Amir bin Fuhairah. Ia tertusuk tombak di medan perang, lalu tombak itu lepas sendiri. Kemudian jenazahnya diangkat ke langit, hingga, demi Allah, aku tidak bisa melihatnya lagi. Yang membunuhnya adalah seorang laki-laki dari suku Kilab bernama Jabbar bin Salma. Ketika Jabbar berhasil menusuknya, ia mendengar Amir bin Fuhairah berkata, `Demi Allah, aku menang.'

Lalu Mundzir, menemui Dhahhak bin Sufyan al-Kilabi dan menceritakan kisah Amir bin Fuhairah. Mundzir masuk Islam setelah mengetahui kisah Amir bin Fuhairah yang jenazahnya diangkat ke langit dan tiada satu orang pun yang seperti itu. Dhahhak menulis hadis yang disandarkan kepada Rasulullah Saw. yang menyatakan bahwa para malaikat menguburkan jenazah Amir bin Fahirah dan menempatkan nya di surga yang tertinggi. (Riwayat Al Waqidi dari Mash'ab bin Tsabit dari Abdul Aswad dari `Urwah)

Menurut riwayat Al-Baihaqi, jenazah Amir bin Fuhairah mungkin diangkat ke langit, diletakkan lagi ke bumi, lalu hilang, senada dengan riwayat Bukhari dari jalur `Urwah yang menyatakan bahwa jenazah Amir bin Fuhairah diangkat ke langit, kemudian diletakkan kembali ke bumi, dan sampai saat ini belum ditemukan. Orang-orang mengatakan bahwa malaikat telah menguburkannya.

Al-Baihaqi juga meriwayatkan dari `Urwah yang terhubung dengan `Aisyah dengan redaksi, "Setelah peperangan, aku melihat jenazah Amir bin Fuhairah terangkat ke atas, berada di antara langit dan bumi, sampai aku tidak bisa melihatnya lagi." Riwayat tersebut tidak menceritakan bahwa jenazahnya diturunkan kembali ke bumi, dan banyak riwayat yang menyatakan bahwa Amir bin Fuhairah dimakamkan di langit.

Ibnu Sa'ad juga meriwayatkan dari Waqidi dari Muhammad bun 'Abdullah dari Al-Zuhri, dari `Urwah, dari Aisyah r.a. bahwa Amir bin Fuhairah naik ke atas langit, dan tidak dikctemukan jenazahnya. Orang-orang menceritakan bahwa malaikat telah menguburnya di langit.

Peristiwa ini menjadi pertanda kebesaran yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan kepada Amir bin Fuhairah. Setelah peristiwa itu, Jabbar bin Salma selalu terngiang-ngiang ucapan Amir bin Fuhairah yang mengataka bahwa dirinya menang, dan beberapa waktu kemudian, ia mendapatkan penjelasan bahwa yang dimaksud dengan menang adalah surga. Tak lama kemudian, Jabbar bin Salma masuk Islam, hari demi hari pun keislamannya semakin membaik. Allahu Albar.

Nabi Muhammad Sujud Syukur Saat Orang Ini Meninggal Dunia

Nabi Muhammad SAW merupakan suri tauladan yang patut dijadikan contoh.  Dalam kesehariannya, Rasul selalu bertindak dengan akhlak terbaik. Salah satu sifat nabi yang patut diikuti adalah pandai bersyukur atas segala kondisi yang dialami.

Nabi bahkan sampai bersujud setiap kali menerima berita bahagia. Sujud ini pada hakikatnya adalah ungkapan terimakasih kepada Allah SWT yang dilakukan saat mendapatkan nikmat. Namun, tahu kah anda jika ternyata Rasulullah pernah sujud syukur saat salah seorang manusia meninggal dunia.

Ia bahkan sampai disangka wafat karena lamanya melakukan sujud bahagia tersebut. Seberapa burukkah orang ini sehingga membuat Nabi bersujud dan bersyukur mendengar kematiannya? Siapa dia? Berikut ulasannya.

Sebagaimana yang diriwayakan oleh HR Abu Daud dan Tirmizi, Abu Bakrah menuturkan bahwa sesungguhnya apabila datang kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sesuatu yang menggembirakan atau kabar suka, beliau langsung sujud terima kasih kepada Allah.

Nabi SAW pernah bersujud setelah doanya dikabulkan. Beliau meminta kepada Allah Ta’ala agar dapat memberikan syafaat kepada umat-umatnya. Maka beliau bersujud setelah doanya dikabulkan sebagai wujud syukur kepada Allah Ta’ala.

Beliau juga pernah bersujud lama di luar shalat hingga disangka wafat oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Peristiwa itu terjadi ketika beliau menerima kabar dari Malaikat Jibril bahwa Allah Ta’ala akan memberikan balasan kepada umatnya yang berkirim shalawat dan salam kepadanya.

Sebagaimana disebutkan dalam al-Futuh, Imam Abu Daud pernah meriwayatkan perkataan Imam Muhamamd bin Ishaq bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersujud ketika mendengar kabar kematian seseorang. Seberapa burukkah orang ini hingga membuat Nabi bersujud mendengar kematiannya?

Kabar tewasnya Abu Jahal dalam Perang Badar diterima oleh Nabi SAW dari seorang laki-laki yang menyatakan bahwa Abu Jahal tewas di tangan Mu'awwadz dan Mu'adzAbu (Riwayat Bukhari dan Muslim). Namun, beliau tidak langsung mempercayainya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun memerintahkan lelaki tersebut untuk bersumpah sebanyak tiga kali.

“Demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia. Aku sungguh melihat Abu Jahal terbunuh”, ucap laki-laki tersebut. Setelah kalimat sumpah itu diucapkan tiga kali, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun bersujud.

Melihat konteks historis kehidupan pada masa nabi, sujud syukur dilakukan ketika musuh-musuh Islam meninggal karena pada masa itu masih terjadi peperangan. Terbukti hadis yang dikeluarkan oleh Abu Daud terdapat dalam kitab jihad. Jihad pada masa nabi identik dengan angkat senjata sehingga kematian musuh-musuh Islam merupakan sesuatu yang menggembirakan.

Kejadian tewasnya Abu Jahal dan sujudnya Nabi sebagai wujud rasa syukur ini juga menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi umat Islam. Bahwa dalam proses menjalani hidup, ada orang-orang yang kematiannya ditunggu dan disyukuri oleh orang lain.

Sebab, ketiadaan mereka lebih diharapkan karena selama hidup orang tersebut tidak memberikan manfaat, justru madharat kepada diri dan sekitarnya. Padahal Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada umatnya melalui sabda beliau: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)

Menjadi pribadi yang bermanfaat adalah salah satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang Muslim. Seorang Muslim lebih diperintahkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain, bukan hanya mencari manfaat dari orang atau memanfaatkan orang lain. Ini adalah bagian dari implementasi konsep Islam yang penuh cinta, yaitu memberi.

Sujud syukur merupakan salah satu bentuk rasa syukur seorang hamba kepada Tuhannya, yang telah dicontohkan oleh rasulullah dan para shahabatnya. Bukan hanya dicontohkan, Allahpun telah memerintahkan kepada hambanya untuk bersyukur.

Janganlah kita memandang banyaknya materi yang dimiliki atau didapat menjadikan seseorang untuk melakukan sujud syukur, tetapi kita harus memulainya dari hal-hal yang kecil yang justru sering terlupakan oleh kebanyakan orang.